Imunisasi IPD

Alhamdulillah, setelah beberapa bulan sabar menunggu flu dan batuk yang datang dan pergi, akhirnya minggu ini anakku sampai juga ke jadwal imunisasi IPD nya yang sempat lama tertunda (Walaupun sambil ngantuk2, karena dah malam).

Memang aku sendiri sempat bimbang tentang imunisasi IPD ini, jadi disempetin googling buat cari2 informasi. Ternyata banyak banget yang diskusi tentang faksin IPD ini di forum kesehatan, anak dan balita. Ini ada cuplikannya sedikit….

IPD (Invasive Pneumococcal Disease) merupakan sekelompok penyakit yang bisa menyerang siapa saja, karena bakteri tersebut hidup secara normal pada daerah hidung dan tenggorakan. Namun akan cepat menyerang ke dalam sirkulasi darah pada bayi dan terutama anak berusia di bawah dua tahun, karena sistem kekebalan mereka masih rendah.
IPD adalah penyakit yang disebabkan oleh bakteri pneumokokus (streptoccoccus pneumoniae). Bakteri tersebut secara cepat dapat masuk ke dalam sirkulasi darah dan merusak (invasif) serta dapat menyebabkan infeksi selaput otak (meningitis) yang biasa disebut radang otak.Penelitian menunjukkan, sebagian besar bayi dan anak di bawah usia 2 tahun pernah menjadi pembawa (carrier) bakteri pneumokokus di dalam saluran pernapasan mereka. Oleh karena itu, bayi baru lahir hingga bocah usia 2 tahun berisiko tinggi terkena IPD. Bakteri ini menyebar di udara (airborne disease) melalui cairan/lendir hidung dan tenggorokan saat seseorang bersin dan batuk. Saat bersin atau batuk, jutaan partikel air liur yang sangat kecil terlontar dengan kecepatan 100 meter per detik. Partikel tersebut umumnya berdiameter sekitar 10-100 mikrometer. Partikel ini akan segera berubah menjadi partikel yang lebih kecil lagi (droplet nuclei) berukuran 1-4 mikrometer dan berisi virus atau bakteri. Inilah yang menjadi sarana penularan yang sangat cepat. Itulah sebabnya interaksi antara anak dan manula yang mengidap penyakit ini terus menerus, serta antarbayi dan anak di tempat-tempat umum, kendaraan umum, likungan tetangga, tempat penitipan anak (TPA) dan kelompok bermain (playgroup), merupakan lokasi potensial bagi penyebaran bakteri IPD ini.Infeksi pneumokokus merupakan infeksi bakteri yang menyerang berbagai bagian tubuh.

Jika bakteri pneumokokus masuk ke dalam aliran darah, dikenal sebagai pneumokokus bakteremia.
Jika bagian otak tertentu yang terserang, dikenal sebagai meningitis (radang/infeksi selaput otak).
Jika bakteri pneumokokus menyerang paru-paru, dikenal sebagai pneumonia atau radang/infeksi paru.
Jika telinga yang terinfeksi, dikenal sebagai otitis media akut.

Apabila terjadi bakteremia, akan muncul gangguan berbagai organ tubuh (disebut sepsis) yang akhirnya berujung pada kegagalan fungsi organ (multiorgan failure). Selain itu, pneumokokus juga bisa menyebabkan penyakit lokal yang bersifat non-invasif, seperti infeksi telinga tengah, radang paru dan sinusitis. Yang paling fatal bila bakteri pneumokokus menyerang otak. Pada kasus-kasus meningitis seperti ini, kematian akan menyerang 17% penderita hanya dalam kurun waktu 48 jam setelah terserang. Kalaupun dinyatakan sembuh umumnya meninggalkan kecacatan permanen, semisal gangguan pendengaran dan gangguan saraf yang selanjutnya memunculkan gangguan motorik, kejang tanpa demam, keterbelakangan mental dan kelumpuhan.
Di Indonesia, saat ini pneumokokus menjadi salah satu dari dua penyebab utama meningitis bakteri anak-anak. Meskipun penyakit pneumokokus memuncak pada anak usia 12 bulan, kasus meningitis mungkin mulai terjadi dari usia 2 bulan. Infeksi yang disebabkan pneumokokus adalah penyebab angka kesakitan (morbiditas) dan kematian (mortalitas) yang tinggi pada anak-anak di seluruh dunia. Berdasarkan data epidemologis, infeksi pneumokokal menyebabkan lebih dari 1 juta kematian anak-anak terutama di negara berkembang.

Gejalanya Mirip Demam
Gejala IPD yang umum diantaranya napas cepat sesak, nyeri dada, menggigil disertai batuk dan demam dengan masa inkubasinya 1-3 hari. Namun gejala yang lebih spesifik bisa ditemui tergantung pada bagian tubuh mana yang diserang. Otitis media yang berakibat infeksi pada telinga tengah, contohnya, juga memunculkan gejala lain seperti nyeri telinga, demam, rewel, dan gangguan pendengaran yang bersifat sementara. Infeksi telinga tengah cenderung terjadi berulang pada masa bayi dan kanak-kanak. Kalau sudah begini sangat mungkin si anak akan mengalami gangguan pendengaran yang bersifat menetap dan mengalami keterlambatan bicara. Sayangnya, gejala bakteremia pada bayi kadang sulit diketahui karena awalnya serupa dengan infeksi virus biasa seperti bayi menderita demam tinggi dan terus-menerus rewel, diikuti atau tanpa infeksi saluran pernapasan. Sementara meningitis menunjukkan gejala seperti demam tinggi, nyeri kepala hebat, mual, muntah, diare, leher kaku, dan takut pada cahaya (photophobia). Selain itu bayi juga tampak rewel, lemah dan lesu (letargik), menolak makan dan pada pemeriksaan teraba ubun-ubunnya menonjol, dapat terjadi penurunan kesadaran dan kejang. Dari ketiga bakteri yang biasa menyebabkan meningitis (Streptococcus pneumoniae, Haemophilus influenzae type B, dan Neisseria meningitis), Streptococcus pneumoniae merupakan bakteri yang seringkali menyerang anak di bawah 2 tahun. Meningitis karena bakteri pneumokokus ini dapat menyebabkan kematian hanya dalam waktu 48 jam. Bila sembuh pun sering kali meninggalkan kecacatan permanen.
Pada dasarnya IPD dapat diobati dengan antiobiotik. Akan tetapi pengobatan IPD jadi semakin sulit dengan meningkatnya resistensi bakteri pneumokokus terhadap beberapa jenis antiobiotik, misalnya penisilin. Lagi pula penggunaan antibiotik untuk infeksi telinga dapat mengurangi efektivitas antibiotik itu sendiri selain meningkatkan jumlah carrier terhadap organisma yang resisten di dalam saluran pernapasan. Itulah sebabnya, pencegahan lebih diperlukan daripada pengobatan. Vaksinasi dipercaya sebagai langkah protektif terbaik mengingat saat ini resistensi kuman pneumokokus terhadap antibiotik semakin meningkat.

Nah, setelah mendengar penjelasan dan anjuran dsa Abigail, makin mantap deh aku sama imunisasi ini.Karena usia Abigail sekarang 2 thn 11 bulan, vaksin IPD nya diberikan hanya satu kali. Syukur deh… soalnya di umur anakku sekarang, dia sudah bisa protes dan mulai punya rasa takut untuk ke dokter…
Akhirnya mammie abi harus mengeluarkan jurus maut…. Ice Creaaaaaammmmm…


“Nanti, kalau Abigail sudah disuntik, ‘nggak nangis, pulangnya kita beli Ice cream, ok??” hahaha rayuan standar.
“Aku ‘nggak mau ke dokter Mammie, aku nggak mau di suntik…” jawab Abi.
“Loh kenapa? kan kemaren, waktu ‘teddy’ sakit, kan juga disuntik sama ibu dokter abigail, ya kaann?”
“Oh iyya, aku yang suntik, cuuuusssss, tapi ‘nggak sakit kok mammie, kata ‘teddy’ cuma sakit sedikit, kaya’ digigit semut…. hihhihi”, anakku nyontohin muka ‘teddy’nya yang memelas habis disuntik, sambil semangat cerita, karena dia lagi seneng ma
in peran jadi ibu dokter juga..

Alhasil… dengan segala bujuk rayu dan alih perhatian, Abigail sukses imunisasi IPD tanpa air mata… hihihi jadi Mammie and Pappie have to keep their promise…
“Hmmmm, enak Mammie…Ice Creamnya,” komentar Abi
“Mammie mau??”

Random Image
Nama
Email
Telp

One comment on “Imunisasi IPD

  1. Tas Wanita says:

    Lumayan dapat ilmu baru ….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>